Hanya Sampai Sejadah

Jidat ini hanya sampai Sejadah tidak sampai kepada Allah SWT, Meskipun Triliunan Sujud.

Jidat ini hanya sampai Sejadah tidak sampai kepada-Nya, Yang sampai kepada-Nya adalah Hati yang bermandikan Dzikir.

Dzikir yang di tanamkan oleh Pewaris Nabi Dzohir maupun Bathin.

Berapa banyak orang yang Sholat hanya sebatas gerakan , tetapi hati melayang layang :

-inget kerjaan

-inget istri

-inget hutang

Dan lain lain.


“Alangkah buruknya orang yang menyembah Allah, lantaran mengharap surga dan ingin di selamatkan dari api neraka. Seandainya surga dan neraka tak ada apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?”

Tanpa Cintamu Aku Pasti Mati

“Uang bisa di ganti, tapi Serorang ibu tidak tergantikan”.


Ku mohon padamu Ibu, Jangan kau balikan lagi pemberianku. Jasamu tak ternilai dengan setumpuk uang.

Berbaktiku cuma bisa mencintaimu, menghormatimu dan memberikan sedikit uang, bukan niat karena aku mau membayar jasamu dengan uang, tapi aku akan buktikan bahwa kerja kerasmu itu tak akan ku sia-siakan selama nafas ini menghirup. Aku tau pengorbananmu untukku sampai “mati-matian”. Tapi anehnya tak ada sedikitpun kata “lelah” bagimu. Sengaja kau tutupi, agar hidupku bahagia. Engkau berburuh kesana-kemari demi membiayai pendidikan diriku serta keluarga.

Maafkan aku Ibu,

Aku belum bisa membalas jasamu

Aku berjanji jika sukses nanti, akan ku angkat tinggi derajat singgasanamu.

Dan aku rela di tembak dengan teriknya panas sang mentari, demi membuktikan kerja kerasmu selama ini untukku.


Ibu

Apa jadinya aku

Andai kamu tidak ada

Tanpa kamu

Aku bukan apa-apa

Aku sangat butuh dirimu

Dan aku ingin selalu Engkau sentuh

Karena kamu,

Yang bisa menyelamatkanku

Cuma kamu yang mampu,

Mengendalikan aku

Kamu-Aku ‘Satu’


“Jangan lepaskan genggamanku wahai Ibu, sebab tanganmu itu suci bagaikan embun pagi yang menetes tanpa ragu”

Persiapan Hidup Manusia

Ini anjurannya kanjeng Nabi Muhammad SAW, ditujukan kepada orang-orang yang hidup, ditujukan kepada orang-orang yang sehat, ditujukan kepada orang-orang yang punya kesempatan, ditujukan kepada orang-orang yang muda, ditujukan kepada orang-orang yang kaya.

QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : “IGHTANIM KHOMSAN QOBLA KHOMSIN”

Artinya: Bersabda Rosululloh SAW , “Perjuangkanlah perkara lima, sebelum datang perkara lima“.

1. WA HAYATAKA QOBLA MAUTIKA “(Dan semasa hidupmu, sebelum datang kematianmu)”.

2. WA SHIHATAKA QOBLA SAQO MIKA “(Dan Selagi engkau sehat, sebelum datang masa sakit)”.

3. WA FIROGHOKA QOBLA SYUGHLIKA “(Selagi ada kesempatan, sebelum datang masa sempit / repot)”.

4. WA SYABAABAKA QOBLA HARO MIKA “(Dan masa mudamu sebelum datangmasa tua renta)”.

5. WA GHINAAKA QOBLA FAQRIKA “(Dan Selagi kaya, cukup, sebelum kamu kekurangan, jatuh miskin)”.

1). Hidupmu cepat-cepat perjuangkan untuk kebaikan sebelum kamu mati (ini ditujukan kepada orang yang hidup).

2). Sehatmu, kuatmu, cepat-cepat perjuang kan untuk kebaikan sebelum kamu itu sakit.

3). Kesempatanmu cepat-cepat perjuang kan, isilah dengan perjuangan yang baik, sebelum kamu kedatangan repotmu.

4). Mudamu (mumpung kamu masih muda-muda) cepat-cepat perjuangkan untuk kebaikan, sebelum kamu kedatangan pikunmu (tua/renta).

5)  Kayamu cepat-cepat perjuangkan sebelum kamu kedatangan Faqirmu.
Masalah lima ini coba diangan-angan, karena ini sudah lengkap lima macam. Hidup sebelum kedatangan mati, sehat sebelum kedatangan sakit, waktu luang sebelum kedatangan repot, muda sebelumkedatangan tua, kaya sebelum kedatangan faqir.

Dunia Bukan Untuk Tempat Tinggal, Tapi Dimana Kita Akan Meninggal

                                                     ..كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”…(Ali Imrân/3:185).

Seandainya hari ini adalah hari terakhirku hidup di dunia, Hari terakhir bertemu dengan orang-orang yang ku cintai, Hari terakhir makan dan minumku Dan hari terakhirku menghirup udara bebas.

Aku selalu membayangkan kalau diriku menjadi ayam, ikan atau kambing yang direbus, digoreng dan dibakar hidup-hidup didalam Neraka?

Naudzubillah (jangan sampai itu terjadi).

Dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dari bulan ke tahun dan dari tahun ke tahun Malaikat Maut terus melangkah mendekatiku.

Anehnya tidak nampak rasa khawatir sedikitpun di wajahku. Bahkan dihari-hari penantian itu lebih banyak ku gunakan dengan kesenangan dunia.

Seringkali ku buat main-main, serasa bahwa hidup tenang-tenang saja.

Padahal diriku ini adalah orang yang hina belumur dari segala dosa.

Aku takut akan dosa-dosaku yang tidak bisa ditebus, bagaimana diminta pertanggung jawaban di hadapan-Mu Ya Robb?


Ku tak mau mengurusi duniawi

Yang ku mau hanya benah diri

Hidupku penuh diselimuti,

Dosa yang tiada henti


Perlahan demi perlahan

Tak perlu dengan paksaan

Cukup, mengisi amal kebaikan

Demi mendapat surga yang dirindukan


Persiapkan diri

Persiapkan hati

Menunggu panggilan Sang Illahi

Bahwa hidup hanya sekali


Entah esok, lusa, atau nanti

Bersiap untuk mati

Dunia bukan tempat tinggal

Tapi, dimana kita akan meninggal


Quotes : Ambil hikmah,semoga mati kita dalam keadaan khusnul khatimah.  Aminnn…

Seorang Yahudi Yang Merindukan Rasulullah SAW

Hari Sabat, atau hari sabtu saat ini, adalah hari besar dimana para pengikuti ajaran Nabi Musa AS (pada masa Nabi SAW dikenal sebagai kaum Yahudi) dilarang melakukan aktivitas apapun kecuali untuk beribadah, berdzikir atau mempelajari kitab Taurat. 


Suatu ketika, seorang lelaki Yahudi yang tinggal di Syam mengisi hari sabatnya untuk mempelajari kitab Taurat. Ia menemukan dalam Taurat tersebut ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat dan keadaan Nabi Muhammad SAW, nabi yang diramalkan akan turun sebagai penutup para Nabi-nabi, sebanyak empat halaman. Ia segera memotong empat halaman Taurat tersebut dan membakarnya. 

Saat itu memang Nabi SAW telah diutus dan telah tinggal di Madinah. Sementara itu, beberapa orang pemuka dan pendeta Yahudi melakukan “indoktrinasi” kepada jamaahnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorangpendusta. Jika ditemukan sifat dan cerita tentang dirinya dalam Taurat, mereka harus memotong dan membakarnya karena itu merupakan ayat-ayat tambahan dalam Taurat yang tidak benar. Lelaki Yahudi dari Syam tersebut adalah satu anggota jamaah sekte ini. 

Pada hari sabtu berikutnya, ia juga mengisi harinya dengan melakukan kajian terhadap Taurat, dan ia menemukan delapan halaman yang menyebutkan tentang keadaan dan sifat-sifat Nabi SAW. Seperti kejadian sebelumnya, ia memotong delapan halaman tersebut dan membakarnya. 

Pada hari sabtu berikutnya lagi, ia masih melakukan kajian terhadap Taurat, dan kali ini ia menemukan hal yang sama, bahkan ditambah dengan cerita tentang beberapaorang sahabat di sekitar beliau, dan ia menemukannya dalam 12 halaman. Kali ini ia tidak langsung memotongnya, tetapi ia berfikir dan berkata dalam hatinya, “Jika aku selalu memotong bagian seperti ini, bisa-bisa Taurat ini seluruhnya akan menyebutkan tentang sifat sifat dan keadaan Muhammad..!!” 

Tentunya kita tidak tahu pasti, apakah memang kandungan Taurat seperti itu? Atau memang Allah SWT telah menggiring lelaki Yahudikepada hidayah-Nya, sehingga setiap kali dipotong, akan muncul secara ajaib (mu’jizat) pada halaman lainnya, lebih banyak dan lebih lengkap tentang keadaan Nabi Muhammad SAW. 

Tetapi, tiga kali pengalaman kajiannya tersebut telah memunculkan rasa penasaran dan keingin-tahuannya yang besar kepada Nabi SAW. Bahkan dengan tiga kali kajiannya tersebut, seakan-akan sifat-sifat dan keadaan beliau telah lekat di kepalanya, dan seperti mengenal beliau sangat akrab. 

Ia datang kepada kawan-kawan Yahudinya dan berkata, “Siapakah Muhammad ini?” 

“Ia seorang pembohong besar (yang tinggal di Madinah),” Kata salah seorang temannya, “Lebih baik engkau tidak melihatnya, dan dia tidak perlu melihat engkau!!” 

Tetapi lelaki Yahudi yang telah “melihat” dengan “ilmul yakin” tentang keadaan Nabi SAW ini, tampaknya tidak mudah begitu saja dipengaruhi teman-temannya. Seakan ada kerinduan menggumpal kepada sosok Muhammad yang belum pernah dikenal dan ditemuinya itu. Kerinduan yang memunculkan kegelisahan, yang tidak akan bisahilang kecuali bertemu langsung dengan sosok imajinasi dalam pikirannya tersebut. Ia berkata dengan tegas, “Demi kebenaran Taurat Musa, janganlah kalian menghalangi aku untuk mengunjungi Muhammad…!!” 

Dengan tekad yang begitu kuatnya, teman-temannya itu tak mampu lagi menghalangi langkahnya untuk bertemu dengan Nabi SAW di Madinah. Lelaki Yahudi ini mempersiapkan kendaraan dan perbekalannya dan langsung memacunya mengarungi padang pasir tanpa menunda-nundanya lagi. Beberapa hari berjalan, siang dan malam terus saja berjalan, hingga akhirnya ia memasuki kota Madinah. 

Orang pertama yang bertemu dengannya adalah Sahabat Salman al Farisi. Karena Salman berwajah tampan, dan mirip gambaran yang diperolehnya dalam Taurat, ia berkata, “Apakah engkau Muhammad?” 

Salman tidak segera menjawab, bahkan segera saja ia menangis mendapat pertanyaan tersebut, sehinggamembuat lelaki Yahudi ini terheran-heran. Kemudian Salman berkata, “Saya adalah pesuruhnya!”

Memang, hari itu telah tiga hari Nabi SAW wafat dan jenazah beliau baru dimakamkan kemarin malamnya, sehingga pertanyaan seperti itu mengingatkannya kepada beliau dan membuat Salman menangis. Kemudian lelaki Yahudi itu berkata, “Dimanakah Muhammad?” 

Salman berfikir cepat, kalau ia berkata jujur bahwa Nabi SAW telah wafat, mungkin lelaki ini akan pulang, tetapi kalau ia berkata masih hidup, maka ia berbohong. Salman-pun berkata, “Marilah aku antar engkau kepada sahabat-sahabat beliau!” 

Salman membawa lelaki Yahudi tersebut ke Masjid, di sana para sahabat tengah berkumpul dalam keadaan sedih. Ketika tiba di pintu masjid, lelaki Yahudi ini berseru agak keras, “Assalamu’alaika, ya Muhammad!” 

Ia mengira Nabi SAW ada di antara kumpulan para sahabat tersebut, tetapi sekali lagi ia melihat reaksi yang mengherankan. Beberapa orang pecah tangisnya, beberapa lainnya makin sesenggukan dan kesedihan makin meliputi wajah-wajah mereka. Salah seorang sahabat berkata, “Wahai orang asing, siapakah engkau ini? Sungguh engkau telah memperbaharui luka hati kami! Apakah kamu belum tahu bahwa beliau telah wafat tiga hari yang lalu?” 

Seketika lelaki Yahudi tersebut berteriak penuh kesedihan, “Betapa sedih hariku, betapa sia-sia perjalananku! Aduhai, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan aku, andai saja aku tidak pernah membaca Taurat dan mengkajinya, andai saja dalam membaca dan mengkaji Taurat aku tidak pernah menemukan ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, andai saja aku bertemu dengannya setelah aku menemukan ayat-ayat Taurat tersebut….(tentu tidak akan sesedih ini keadaanku)!” 

Lelaki Yahudi tersebut menangis tersedu, tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Seakan teringat sesuatu, tiba-tiba ia berkata, “Apakah Ali berada di sini, sehingga ia bisa menyebutkan sifat-sifatnya kepadaku!” 

“Ada,” Kata Ali bin Abi Thalib sambil mendekat kepada lelaki Yahudi tersebut. 

“Aku menemukan namamu dalam kitab Taurat bersama Muhammad. Tolong engkau ceritakan padaku ciri- ciri beliau!” 

Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah SAW itu tidak tinggi dan tidak pendek, kepalanya bulat, dahinya lebar, kedua matanya tajam, kedua alisnya tebal. Bila beliau tertawa, keluar cahaya dari sela-sela giginya, dadanya berbulu, telapak tangannya berisi, telapak kakinya cekung, lebar langkahnya, dan di antara dua belikat beliau ada tanda khatamun nubuwwah!!” 

“Engkau benar, wahai Ali,” Kata lelaki Yahudi tersebut, “Seperti itulah ciri-ciri Nabi Muhammad yang disebutkan dalam Kitab Taurat. Apakah masih ada sisa baju beliau sehingga aku bisa menciumnya?” 

“Masih!” Kata Ali, kemudian ia meminta tolong kepada Salman untuk mengambil jubah Rasulullah SAW yang disimpan Fathimah az Zahrah, istrinya dan putri kesayangan Nabi SAW. 

Salman segera bangkit menuju tempat kediaman Fathimah. Di depan pintu rumahnya, ia mendengar tangisan Hasan dan Husain, cucu kecintaan Rasulullah SAW. Sambil mengetuk pintu, Salman berkata, “Wahai tempat kebanggaan para nabi, wahai tempat hiasan para wali!!” 

“Siapakah yang mengetuk pintu orang yatim!” Fathimah menyahut dari dalam. 

“Saya, Salman…” Kata Salman, kemudian ia menyebutkan maksud kedatangannya sesuai yang dipesankan oleh Ali. 

“Siapakah yang akan memakai jubah ayahku?” Kata Fathimah sambil menangis. 

Salman menceritakan peristiwa berkaitan dengan lelaki Yahudi tersebut, lalu Fathimah mengeluarkan jubah Rasulullah SAW, yang terdapat tujuh tambalan dengan tali serat kurma, dan menyerahkannya kepada Salman, yang langsung membawanya ke masjid. Setelah menerima jubah tersebut dari Salman, Ali menciumnya diiringi haru dan tangis, hingga sembab matanya. Jubah Rasulullah SAW tersebut beredar dari satu sahabat ke sahabat lainnya yang hadir, mereka menciumnya dan banyak yang menangis karena haru dan rindu kepada Nabi SAW, dan terakhir jatuh ke tangan lelaki Yahudi tersebut. 

Lelaki Yahudi ini mencium dan mendekap erat jubah Nabi SAW dan berkata, “Betapa harumnya jubah ini…!!”

Dengan tetap mendekap jubah tersebut, lelaki Yahudi ini mendekat ke makam Rasulullah SAW, kemudian menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhanku, saya bersaksi bahwa Engkau adalah Dzat yang Esa, Tunggal dan tempat bergantung (AshShomad). Dan saya bersaksi bahwa orang yang berada di kubur ini adalah Rasul-Mu dan kekasih-Mu. Saya membenarkan segala apa yang ia ajarkan! Wahai Allah, jika Engkau menerima keislamanku, maka cabutlah nyawaku sekarang juga..!!” 

Tak lama kemudian lelaki Yahudi tersebut terkulai jatuh dan meninggal dunia. Ali dan para sahabat lainnya ikut terharu dan sedih melihat keadaan si Yahudi tersebut. Mereka segera memandikan dan mengurus jenazah lelaki Yahudi, yang telah menjadi muslim tersebut, dan memakamkannya di Baqi’. 

Lelaki Yahudi ini bukanlah termasuk sahabat Nabi SAW, bahkan dalam keislamannya tersebut belum satupun shalat atau kefardhuan lain yang dilakukannya, tetapi kecintaan dan kerinduannya kepada Nabi SAW membuatnya pantas kalau ia dimakamkan di Baqi’ disandingkan dengan para sahabat beliau lainnya.

Membangun Cinta


Mengapa wanita & laki-laki saling suka? Karena mereka jatuh cinta.Mengapa kemudian mereka bahagia? Apakah karena adanya jatuh cinta?

Bukan…Tetapi karena mereka bersama-sama terus membangun cintanya.

Jatuh cinta itu gampang kok, dalam 10 menit juga bisa.

Tapi membangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup.

Mengapa jatuh cinta gampang?

Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.

Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.

Dengan interaksi 24 jam per hari, 7 hari dalam seminggu, semua perlakuan akan terungkap…Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan membangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Namun membangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan unek-unek walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah menggauli. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut. Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka. Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa, saat masing-masing mengingat komitmen awal mereka dahulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup? Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan? Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah MEMBANGUN CINTA. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab. Mau punya teman hidup? Jatuh cintalah…

Tetapi sesudah itu. Bangunlah cinta, Jagalah komitmen awal.
1. KETIKA AKAN MENIKAH : Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.
2. KETIKA MELAMAR : Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada TUHAN melalui wali si gadis.
3. KETIKA MENIKAH : Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan Tuhan.
4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA : Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.
5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG : Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.
6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK : Jangan membagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak-anak Anda masing-masing 100%.
7. KETIKA ANDA ADALAH SUAMI : Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.
8. KETIKA ANDA ADALAH ISTERI : Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.
9. KETIKA MENDIDIK ANAK : Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.
10. KETIKA ANAK BERMASALAH : Yakinlah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa ‘tidak di dengarkan’ oleh orang tuanya.
11. KETIKA ADA ‘PIL/ Pria Idaman Lain : Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.
12. KETIKA ADA ‘WIL/ Wanita Idaman Lain : Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.
13. KETIKA INGAT LANGGENG & HARMONIS GUNAKANLAH FORMULA 7K :

1. Ketakutan akan Tuhan

2. Kasih sayang

3. Kesetiaan

4. Komunikasi dialogis

5. Keterbukaan

6. Kejujuran

7. Kesabaran

Aku Menyapa Aku

Aku malu saat melihat lalat

Yg katanya jorok suka menjilat

Tapi kubaca ia banyak manfaat

Sedangkan aku menjilat-jilat maksiat

Untuk orang lain ku buat mudarat

Keadaanku tanpa ilmu benar-benar melarat

Tapi lagakku melebihi konglomerat
Benar, katanya aku berlumpur

Benar, katanya aku dari air hina

Benar, katanya aku takabur

Benar, katanya aku rakus dan nista

Kata cermin aku tak pernah bersyukur
Duhai diri tinggalkanlah busana serigala

Tinggalkanlah jubah angkara murka

Bukankah ibrahim telah diperintahkan

Untuk menyembelih binatang kebodohan
Wahai diri maknailah karunia tuhan

Hingga kau temui kerinduan

Cinta yg bermakna

Logika hilang dan sirna

Lebur fana kedalam baqa